Tupai terbang masuk dalam subkelas hewan berplasenta (eutheria), yakni hewan yang semasa janin berkembang dalam plasenta di dalam tubuh induknya. Sedangkan sugar glider masuk dalam subkelas hewan berkantung (marsupalia), sama halnya seperti kangguru dan koala, dimana janin dikeluarkan dari tubuh sang induk dengan ukuran sangat kecil untuk selanjutnya berkembang dan menyusui di dalam kantong induknya. “Karena kemiripannya itu, banyak penghobi pemula yang terkecoh. Saat pertama kali membeli hewan ini, saya juga mengira membeli sugar glider. Setelah berminggu-minggu merawatnya, saya baru sadar kalau hewan yang saya pelihara itu bukan sugar glider, tapi tupai terbang yang di kalangan penghobi disebut FS atau flying squirrel,” kata Putra Rusjaya menceritakan pengalamannya.
Menurut Rusjaya, tupai terbang sebenarnya tidak bisa terbang seperti burung. Di bumi ini, hanya ada satu mamalia yang benar-benar dapat terbang yakni kelelawar. Tupai terbang hanya bisa melayang (glide) dari satu pohon ke pohon lainnya atau meluncur dari pohon ke tanah tanpa harus mengalami cedera. “Tupai terbang menggunakan pergelangan tangan mereka sebagai kemudi, sedangkan ekor yang bentuknya menyerupai bulu ayam digunakan untuk menjaga keseimbangan dan rem sebelum pendaratan,” katanya menjelaskan.
Rusjaya menambahkan, tupai terbang merupakan hewan nocturnal atau aktif di malam hari. Satwa ini memiliki bulu tebal dengan mata gelap yang sangat besar seperti hewan nocturnal lainnya. Di bagian sisi tubuhnya di antara kaki depan dan kaki belakang terdapat membran tipis seperti kulit ditutupi bulu yang digunakan untuk melayang. “Dari searching di internet, saya mengetahui banyak sekali jenis tupai terbang di dunia ini. Salah satu yang paling populer di Indonesia dan banyak dipelihara sebagai satwa klangenan adalah jenis Glaucomys volans ini,” ujarnya. (sumatika/balipost)
Sumber: http://balipost.com/read/gaya-hidup/2015/08/14/39670/sering-disamakan-dengan-sugar-glider.html
No comments:
Post a Comment